Di Anggap Garam dari Hasil Produksi Petani Kurang Berkualitas, IPB dan UTM Kembangkan Teknologi Pembuatan Garam

Di Anggap Garam dari Hasil Produksi Petani Kurang Berkualitas, IPB dan UTM Kembangkan Teknologi Pembuatan Garam
Di Anggap Garam dari Hasil Produksi Petani Kurang Berkualitas, IPB dan UTM Kembangkan Teknologi Pembuatan Garam
Bogor - Peneliti dari Institusi Pertanian Bogor menganggap garam hasil produksi petani tradisional kurang berkualitas disamping kuantitasnya yang menurun akibat hujan hampir sepanjang tahun. Peneliti IPB bekerja sama dengan Universitas Trunojoyo Madura (UTM) mengembangkan teknologi pembuatan garam yang dianggap lebih baik untuk memaksimalkan hasil produksinya.

Peneliti sekaligus dosen Departemen Kimia IPB Mohamad Khotib menyebutkan, karakteristik teknologi produksi garam yang digunakan para petani dalam negeri masih ada kelemahannya. "Produksi garam kita sangat bergantung pada cuaca panas sehingga hasilnya menurun saat terjadi hujan," katanya dalam konferensi pers di kampus IPB Baranangsiang Kota Bogor, Jumat, 4 Agustus 2017.

Khotib memperkirakan, kelangkaan garam yang terjadi belakangan ini disebabkan kuantitas garam hasil produksi para petani dalam negeri menurun. Selain itu, garam yang ada juga kurang berkualitas yakni di bawah Standar Nasional Indonesia (SNI) 01-4435-2000 untuk bahan baku garam konsumsi, dan SNI 01-3556-2000 untuk industri.

Kadar NaCL pada garam lokal diakui masih banyak yang kurang dari batas kualitas garam beryodium untuk konsumsi, minimal 94 persen. Bahkan untuk kebutuhan industri kadarnya harus di atas 97 persen. Berdasarkan klasifikasi peneliti, garam lokal tersebut termasuk dalam kualitas 3.

"Garam tersebut (berkualitas 3) sebenarnya masih bisa dikonsumsi masyarakat sehari-hari asalkan kandungan pengotornya sedikit," kata Khotib menjelaskan. Pengotor yang dimaksud ialah unsur lain yang tercampur saat proses produksi seperti besi, timbal, merkuri dan sebagainya.

Ia mengatakan kualitas garam berkaitan dengan metode produksi untuk mengurangi kotoran fisik atau zat lain yang tercampur dalam air laut sebagai bahan baku pembuatannya. Mayoritas petani dalam negeri menurut Khotib masih mengaplikasikan geoisolator untuk membantu mengurangi kotoran fisik sehingga membuat garam lebih putih.

Para petani juga menggunakan sistem ulir yang memperpanjang jalur penguapan sekaligus menambah waktu pengendapan pengotor garam lebih maksimal. Namun suhu air di tambak rata-rata di atas 30 derajat selsius sehingga pengotor juga mengalami pengkristalan di meja garam bersamaan dengan NaCL garam.

"Kami mengembangkan konsep penelitian secara terintegrasi melalui teknologi multistage presipitation untuk pemurnian garam sejak 2015," kata Khotib menerangkan teknologi yang tengah dikembangkannya. Teknologi serupa telah diuji coba pada 2016 untuk pemurnian garam rakyat berkadar 90 persen menjadi 99 persen dalam skala 100 liter bahan baku.

Pengkristalan garam

Khotib mengakui komponen biaya paling besar pada purifikasi garam malalui teknologi tersebut ada pada proses pengkristalan garam menggunakan panas listrik atau gas. Tahun ini, para peneliti mengembangkan uji coba pada skala tambak. Proses pengkristalan di tambak menggunakan panas matahari dan angin dianggap bisa meminimalisir biaya.

Upaya selanjutnya, kata dia, tinggal peningkatan kuantitas produksi garam. Khotib menjelaskan, kuantitas hasil produksi petani bisa diatasi dengan mengurangi ketergantungan pada cuaca panas. "Konsentrat NaCL pada garam yang telah bebas pengotor (menggunakan teknologi tersebut) dapat disimpan dan diuapkan kapan saja sesuai kebutuhan dan kondisi cuaca," katanya.

Konsentrat NaCL itu juga bisa disimpan di tempat khusus yang dinamakan rumah garam untuk proses pengkristalan. Selain itu, para petani juga bisa mengembangkan sumber energi non fosil di sekitar sentra garam seperti tenaga surya dan angin untuk dimanfaatkan dalam proses pengkristalan.


-  PIKIRANRAKYAT  -


Sign out
Baca Juga ×
Diberdayakan oleh Blogger.