Revolusi Gaya Menonton Gen Z

Revolusi Gaya Menonton Gen Z
Jakarta - Fitria Febri Evadeni, pegawai swasta di perusahaan farmasi, bercerita tentang kebiasaan menontonnya.  “Semua akses ke luar. Entah berita, acara teve, kartun, hiburan, udah full dari internet,” tambahnya, tertawa. 

Alasan Eva sederhana. Acara-acara di televisi menurutnya terbatas, sesuai dengan jumlah stasiun televisi di Indonesia yang masih terhitung jari. Ini membuat acara-acara yang ditayangkan cenderung seragam.

“Kalau teve bukan kita yang ngendaliin. Kita cuma ngikutin aja pilihannya yang ada. Kalau internet, kita bebas mau cari apa dan kapan,” ungkap Eva.

“Pilihannya lebih banyak, dan waktunya lebih fleksibel.”

Di tengah kesibukannya bekerja 6 hingga 7 jam sehari selama 6 hari dalam seminggu, menonton jadi hiburan praktis yang dipilih Eva. Sayangnya, televisi sudah tidak bisa memenuhi kebutuhan itu dengan maksimal. Ketersediaan pilihan, waktu senggang yang mepet, dan rasa haus pada hiburan bagus membuatnya beralih ke internet.

“Paling nonton teve juga buat internetan. Biar layar YouTube-nya lebih gede,” tambah Eva.

Pengalaman serupa dimiliki Lazuardi Pratama, mahasiswa Ilmu Komunikasi yang baru beberapa hari jadi sarjana. Ardi, sapaan sehari-harinya, punya hobi menonton yang akut. Dalam seminggu ia bisa pergi ke bioskop dua hingga tiga kali, kadang lebih. Tapi di luar itu, ia bisa menghabiskan berjam-jam seharian setiap hari di kamar untuk menonton streaming atau film unduhan.

Ardi memang punya ketertarikan besar pada film. Jika Eva menganggap film sebagai hiburan belaka, Ardi senang mengambil nilai filosofis dari sana, tak jarang mengulasnya di blog personal, dan membagikan opininya di media sosial atau grup percakapan yang isinya para pencinta film.

“Ada perasaan enggak enak kalau ketinggalan bahasan tentang film,” kata Ardi.

Sama seperti Eva, ketertarikan Ardi pada film dianggapnya sebagai pemuasan untuk kesenangan diri semata. Hal sama lain yang dua-duanya rasakan adalah perubahan media menonton. Meski tak sepenuhnya meninggalkan televisi, tapi sejak masuk kuliah lima tahun lalu, Ardi baru akan menatapi layar kaca ketika ada pertandingan bola klub favoritnya—kadang-kadang klub favorit orang lain. Dibanding layar laptop atau layar perak, layar televisi memang yang paling jarang disambanginya.

Baik Eva maupun Ardi adalah contoh Generasi Z, orang-orang yang lahir di era internet—generasi yang sudah menikmati keajaiban teknologi pasca kelahiran internet.

Di Indonesia, internet hadir pada 1990. Baru pada 1994, Indonet hadir sebagai penyelenggara jasa internet komersial perdana. Maka, Generasi Z adalah mereka yang lahir pada medio 1990-an hingga medio 2000-an. Ardi lahir November 1995, sementara Eva lahir Juli 1996. Keduanya termasuk golongan pertama dari Generasi Z.

Perubahan media menonton itu diamini sejumlah riset. Salah satunya temuan riset Tirto, yang menyebut 51,46 persen Generasi Z di Jawa dan Bali lebih memilih menonton film streaming, online, dan unduhan, ketimbang menonton film di bioskop.

Sebagai favorit kedua, bioskop cuma punya persentase 33,89 persen. Sementara teve di posisi keempat dengan hanya 3,91 persen, lebih rendah dari DVD yang punya persentase 10,66 persen.

Hasil ini tak terlalu jauh berbeda dari hasil riset Trifecta pada 2015 yang dikutip dari Vicaption: Gen Z dua kali lebih besar menyukai konten streaming ketimbang generasi Baby Boomers.

Mereka setidaknya melakukan streaming lebih dari 90 menit dalam sehari, melebihi pengguna online rata-rata. Dan lebih senang melakukan streaming dari ponsel pintar. 

Sebanyak 86 persen dari Gen Z selalu online di ponsel pintar, 70 persennya menonton YouTube lebih dari 2 jam dalam sehari. Ini menyebabkan orangtua mereka jadi lebih asyik dan dekat dengan teknologi.

Berdasarkan riset yang sama, orangtua dari anak Gen Z lebih sering melakukan streaming dari orangtua di usia sebaya yang tak punya anak Gen Z.

Mau Nonton di Bioskop Asalkan Gayeng

Naiknya peminat film-film streaming yang membengkak sudah terbaca sejak kehadiran Netflix dalam satu dekade terakhir. Netflix, perusahaan asal California, Amerika Serikat, adalah layanan budaya layar ibarat toko penyewaan DVD tetapi menawarkan tontonan digital di dunia maya.

Ketika House of Cards meledak di pasar, lantas Orange is the New Black, Daredevil, Stranger Things, dan sederetan film orisinal Netflix lain, gairah bisnis film streaming makin membara. Penyedia jasa streaming jadi bisnis yang menggiurkan.

Di Indonesia sendiri muncul sejumlah nama usaha serupa yang mencoba menyaingi Netflix seperti Iflix, HOOQ, dan Genflix. 

Eva terang-terangan memilih Iflix karena penggunaanya lebih simpel, “Kalau Netflix pembayarannya harus pakai credit card, dan ya mahal juga.” Sementara pembayaran di Iflix jauh lebih mudah, dan bisa lewat transfer bank. Jadilah Eva berlangganan setahun pada bisnis streaming itu.

Ardi juga memilih jasa streaming lokal. Ia pakai HOOQ. Alasan Ardi juga sama: kurang lebih karena pemasangan yang mudah. Ia selalu memperpanjang langganan tiap bulan, kadang dua bulan ketika ada promosi. Harganya juga terjangkau.

Peningkatan pada usaha jasa streaming tentu berdampak ke sektor lain. Menjamurnya penikmat film streaming pada saat bersamaan menurunkan jumlah penonton bioskop. Perubahan kebiasaan ini dipicu dari angka Gen Z yang semakin tinggi, mengalahkan jumlah generasi sebelumnya, Generasi Milenial.

Berdasarkan sensus penduduk BPS pada 2010, jumlah Generasi Z dalam populasi penduduk Indonesia mencapai 28,8 persen. Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), porsi Generasi Z di dunia mencapai 34,05 persen dan diprediksi menyentuh 40 persen pada 2050.

Di AS, jumlah Gen Z tahun lalu sampai 65 juta orang. Diperkirakan mereka akan jadi 40 persen konsumer di negeri itu pada 2020 nanti. Menurut Nielsen, sampai sekarang saja Generasi Z jadi kelompok terbanyak yang mengonsumsi barang-barang teknologi. Angkanya sampai 62 persen.

Tahun lalu, menurut riset Movio, Generasi Milenial ternyata masih menyisihkan pengeluaran untuk menonton bioskop, rata-rata masih menonton 6,2 judul film per tahun. Ini tentu mematahkan anggapan bahwa Milenial memiliki ketergantungan kuat untuk menonton film streaming daripada di bioskop.

Tapi, dari riset terbaru Nielsen yang dirangkum selama enam bulan pertama 2017, kebiasaan menonton dari internet meningkat di kalangan Milenial dan Generasi Z, dibanding tahun 2015. Sebanyak 53 persen dari orang-orang berusia 30-39 tahun menonton video di internet setiap hari. Sementara ada 47 persen dari usia 16-20 tahun yang menonton film setiap hari.

Kenaikan ini sangat mungkin bikin khawatir para pemangku kepentingan bisnis bioskop. Pertentangan paling anyar datang dari Christopher Nolan, sutradara termahal yang baru-baru ini mengeluarkan Dunkirk, dan sutradara Sophia Coppola yang terkenal lewat filmnya Lost in Translation. Keduanya frontal menolak Netflix, dan mengimbau para penonton untuk terus menonton di bioskop.

Dari riset sederhana Media Post, Generasi Z memang mengaku ingin pengalaman menonton yang berbeda. Di antaranya: perubahan tempat duduk bioskop yang lebih gayeng sehingga membuat pengalaman menonton menjadi lebih sosial. 

Bagi Gen Z, rupanya, pengalaman menonton di bioskop sekarang tak jauh beda dari pengalaman menonton di rumah. Duduk tenang dua jam, diam, sambil makan kudapan supermahal bisa dilalui di rumah saja.

“Duduk di kursi, dalam teater, hanya melihat sebuah layar sama tidak cukup menarik buat kami,” kata salah satu remaja.

Yang lain menyarankan untuk membuat suasana: “Menonton film dalam bentuk grup-grup, seperti di sebuah festival. Itu akan lebih jauh tidak individualis dan membuatnya jadi acara sosial.”

Bioskop bisa saja menerima atau menolak saran-saran itu. Tapi, jumlah Generasi Z yang besar, dan keakraban mereka pada teknologi, harus jadi perhatian industri bioskop. Berkembang dan menyesuaikan rasanya lebih bijak ketimbang keras kepala dan menolak perubahan. 



- TIRTO  -



Sign out
Baca Juga ×
Diberdayakan oleh Blogger.